Namun, ada ketika waktu dia merintih kesedihan. Air matanya tidak surut berlalu sehingga dadanya terasa sesak dengan kesakitan yang mencengkam. Setiap saat, bibirnya hanya mengolom rasa sedih itu, dan deruan nafas keluhan kerap kali diluahkan. Sesungguhnya saat itu dia kesendirian..
Jalan yang Hilang
Dari celahan batu,
Terpancut air jernih dari tasik,
Dalam kegelapan gua,
Terasa dingin angin menderu,
Sesempit mana pun ruang,
Pasti terlihat cahaya menembusi.
Berjalannya manusia ketika terangnya siang,
Dan tatkala malam hanya kedengaran dengkuran,
Di dalam pemikiran, hanya berfikir untuk meneruskan kehidupan,
Di dalam hati pula, hanya terdetik untuk memperoleh kebahagiaan,
Namun, jalan yang ditempuh semakin kelam,
Dan akhirnya diri tenggelam dalam lembah kemaksiatan.
Ketika diri menangis pilu,
Tangan cuba melambai,
Menggapai tangan-tangan yang lain,
Namun ianya terasa jauh,
Dan memerlukan sesungguh daya tenaga.
Akhirnya diri yang sendiri,
Terpaksa meraba sendiri, dan mencari
Jalan keluar yang sudah dijanji,
Oleh Dia yang Maha Menyayangi.
Namun kerana kelelahan memakan diri,
Maka kesakitan yang dirasa sudah tidak tertahan,
Hati yang dahulunya hidup,
Fikiran yang dahulunya segar,
Bagaikan sudah tiada sisa,
Hanya kesendirian menyepi,
Tanpa cinta dalam hati.
Ya Allah, datangkanlah cahaya,
Datangkanlah cinta sejati,
Berikan kami mata yang mampu melihat,
Jalan keluar yang sudah hilang itu..
Agar Bisa Menangis~







4 comments:
Assalam,
Menyusuri kerikil, onak, duri,
liku kehidupan ini,
kita mengikat diri dengan seutas tali
Kita menyuluh hidup dgn tali
Jangan sampai terputus tali itu
yakni tali iman dan penyuluh iman
Agar sentiasa terang di jalan pulang
mawana:
wassalam..
jzkk atas balasan sajak yg menarik.
tali iman juga yang perlu diikat kemas,
sekiranya longgar maka hanyutlah dalam
lembah duniawi syaitaniyyah~
Alahu akbar
satu sajak yg menarik..
naim:
tak berapa pandai nak bwat sajak yang penuh gaya bahasa.. hehe
terima kasih~
Post a Comment